Label

Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Hakikat Pendidik



Mahasiswa memahami tinjauan filosofis tentang Hakikat Pendidik


A.    Pengertian Pendidik
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidik artinya orang yang mendidik.[1] Secara etimologi dalam bahasa Inggris ada beberapa kata yang berdekatan arti pendidik seperti kata teacher artinya pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi, dipusat-pusat pelatihan disebut sebagai trainer atau instruktur. Demikian pula dalam bahasa Arab seperti kata al-mualim (guru), murabbi (mendidik), mudarris (pengajar) dan uztadz.  Secara terminology beberapa pakar pendidikan berpendapat, Menurut Ahmad Tafsir, bahwa pendidik dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).[2] Sedangkan Abdul Mujib mengemukakan bahwa pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan  santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan prilakunya yang buruk.[3] Pendidik dapat pula berarti orang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kematangan aspek rohani dan jasmani anak.[4]  Secara umum dijelaskan pula oleh Maragustam Siregar, yakni orang yang memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan lain-lain baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.[5]

Hakikat Pendidikan




Mahasiswa memahami tinjauan filosofis tentang pendidikan,






Pendidikan adalah suatu bentuk interaksi manusia.[1] Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2] Dalam pendidikan menuntut terwujudnya manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas, beriman, beriptek dan berakhlakul karimah sebagai tujuan dari pendidikan, maka perlu pengamatan dari segi aktualisasinya bahwa pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan dari sebuah proses pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka menjelaskan, bahwa kata Pendidikan berasal dari kata dasar didik, yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan arti dari Pendidikan adalah Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan perbuatan mendidik[3]
Pendidik dan peserta didik adalah dua entitas yang tak dapat terpisahkan dalam menggerakkan dimensi pendidikan terutama pendidikan Islam. Kedunya mempunyai interaksi secara kontinyu yang dapat menghasilkan perumbahan intelektual, namun tidak dapat dipungkiri dalam praktek pendidikan terkadang mengalami degradasi dan dekadensi bagi kalangan pendidik dengan mengesampingkan aspek humanis yang seharusnya diberlakukan dalam dimensi-dimensi peserta didik. Hal ini penting menjadi sebuah otokritik yang  produktif dalam membangun tradisi pendidikan dengan mensejajarkan peserta didik tanpa adanya bentuk diskriminasi.
Pendidik, peserta didik dan tujuan utama pendidikan merupakan komponen utama dalam pendidikan, ketiga komponen tersebut merupakan komponen yang satu jika hilang salah satu dari komponen tersebut maka hilang pula hakikat pendidikan tersebut. Hakikat pendidik dan peserta didik inilah yang perlu menjadi bahan pengetahuan sebagai landasan untuk melakukan kegiatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang merupakan sebagai obyek dalam penanaman nilai moral, sosial, intelektual, keterampilan dan spiritual. Pendidik merupakan pelaku utama dalam tujuan dan sasaran pendidikan yaitu membentuk manusia yang berkepribadian dan dewasa. Disamping sebagai tujuan pendidikan Islam secara umum diorientasikan untuk membentuk insan kamil, insan kaffah, dan mampu menjadi khalifah Allah swt.[4]
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.  Hakikat pendidikan dalam Islam adalah kewajiban mutlak yang dibebankan kepada semua umat Islam,  bahkan kewajiban pendidikan atau mencari ilmu semenjak bayi dalam kandungan sampai keliang lahat. Seorang ibu yang hamil dianjurkan memperbanyak ibadah, membaca al Qur’an, dan berzikir kepada Allah, karena akhlak ibu yang baik pada masa-masa hamil sangat besar pengaruhnya kepada bayi dalam kandungan.
Pendidikan agama menjadi bagian utama dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, hakikat pendidikan Islam dapat diartikan secara praktis sebagai hakikat pengajaran al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya, :
ÙˆَÙƒَذَÙ„ِÙƒَ Ø£َÙˆْØ­َÙŠْÙ†َا Ø¥ِÙ„َÙŠْÙƒَ رُوحًا Ù…ِÙ†ْ Ø£َÙ…ْرِÙ†َا Ù…َا ÙƒُÙ†ْتَ تَدْرِÙŠ Ù…َا الْÙƒِتَابُ ÙˆَÙ„َا الْØ¥ِيمَانُ ÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ جَعَÙ„ْÙ†َاهُ Ù†ُورًا Ù†َÙ‡ْدِÙŠ بِÙ‡ِ Ù…َÙ†ْ Ù†َØ´َاءُ Ù…ِÙ†ْ عِبَادِÙ†َا ÙˆَØ¥ِÙ†َّÙƒَ Ù„َتَÙ‡ْدِÙŠ Ø¥ِÙ„َÙ‰ صِرَاطٍ Ù…ُسْتَÙ‚ِيمٍ
Artinya : dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuraa : 52).



[1] Hasan Lagulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta:PT. Al-Husna Zikra, 2000), hlm. 18.
[2] Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 3.

[3] Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , Jakarta, Balai Pustaka,  2003. hal. 263.
[4] M.Agus Nuryanto, “Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam (Perspektif Paedagogik Kritis)” dalam   HERMENEIA Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Volume 9, Nomor 2 Desember 2010, hlm. 213.

Manusia dalam Terminologi al-Qur'an



Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat Islam secara jelas mengetengahkan konsep manusia, menurut Muin Salim pengungkapan manusia dalam al-Qur’an melalui dua pendekatan. Pertama, dengan menelusuri arti kata-kata yang digunakan al-Quran untuk menunjuk makna manusia (kajian terminologi). Kedua, menelusuri pernyataan al-Qur’an yang berhubungan dengan kedudukan manusia dan potensi yang dimilikinya.[1]

Minggu, 30 November 2014

Nilai-Nilai Pendidikan Islam



NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM
(Kajian Filisofi terhadap Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12-19)


A.    Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang paripurna, disamping mengandung seperangkat nilai-nilai transhistoris, yaitu al-Qur’an diturunkan dalam realitas sejarah sebagai respon kongkrit terhadap sejarah dalam peristiwa, kurun waktu, dan tempat tertentu, juga memiliki nilai-nilai traendental, yang karenanya ia bersifat abadi, nilai-nilainya tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga difahami dan diyakini sebagai sesuatu yang bersifat abadi. Dan kajian kisah dalam al-Qur’an merupakan manifestasi dari kedua nilai tersebut.

Rabu, 26 November 2014

Pengertian dan Ruanglingkupnya



PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


Mahasiswa memahami konsep umum Filsafat Pendidikan Islam


A.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat Pendidikan Islam mengandung 3 (tiga) komponen kata, yaitu filsafat, pendidikan dan Islam. Untuk memahami pengertian Filsafat Pendidikan Islam akan lebih baik jika dimulai dari memahami makna masing-masing komponen kata untuk selanjutnya dipahami secara menyeluruh dari keterpaduan ketiga kata tersebut.
Filsafat berasal dari kata benda Yunani Kuno philosophia yang secara harpiah bermakna “kecintaan akan kearifan”.makna kearifan melebihi pengetahuan, karena kearifan mengharuskan adanya pengetahuan dan dalam kearifan terdapat ketajaman dan kedalaman. Sedangkan John S. Brubacher berpendapat filsafat dari kata Yunani filos dan sofia yang berarti “cinta kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan[1].

Studi Pendidikan Karakter



PENDAHULUAN

Pendidikan karakter selalu menjadi isu menarik dan aktual dibicarakan kalangan praktisi pendidikan. Hal ini karena dunia pendidikan selama ini dianggap terpasung oleh kepentingan-kepentingan yang absurd, hanya mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa dibarengi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, dan emosi. Output  pendidikan memang menghasilkan orang-orang cerdas, tetapi kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka terampil, tetapi kurang menghargai sikap tenggang  rasa dan toleransi. Imbasnya, apresiasi terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati nurani menjadi dangkal.[1]

Selasa, 25 November 2014

Hakikat Evaluasi Pendidikan



HAKIKAT EVALUASI PENDIDIKAN
(Kajian Filsafat Pendidikan Islam)
Abstrak
Tulisan ini menjelaskan hakikat evaluasi dalam filafat pendidikan Islam. Hakikat adalah realitas, yaitu kenyataan yang sebenarnya, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, dan bukan keadaan yang berubah-rubah. Peningkatan kualitas pembelajaran membutuhkan adanya peningkatan kualitas program pembelajaran secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Untuk meningkatkan kualitas program pembelajaran membutuhkan informasi tentang implementasi program pembelajaran sebelumnya. Hal ini dapat diperoleh dengan dilakukannya evaluasi terhadap program pembelajaran secara periodik.
Kata Kunci : Hakikat, Evaluasi, dan Pendidikan Islam.

Fitrah Manusia dan Pendidikan Islam



Fitrah Manusia dan Pendidikan Islam
(Perspektif Filsafat Pendidikan Islam)
Oleh : Agus Burhan

Abstrak  
Tulisan ini menjelaskan tentang fithrah manusia. Apakah fithrah manusia itu baik atau jahat? Disebut fithrahnya itu baik, faktanya banyak manusia yang jahat, dan sebaliknya dibilang fithrahnya jahat, tidak sedikit manusia yang baik. Pendidikan dalam Islam sebagai lahan untuk menyemai bibit unggul fithrah agar manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sesuai dengan fithrahnya.
Kata kunci : Fithrah manusia, pendidikan Islam