Minggu, 30 November 2014

Ta'aruf atau Pacaran



Kan Sama-sama Tuk Penjajakan: Mau ta’aruf atau pacaran?
          Suatu ketika tiga orang mahasiswi datang ke Lab komputer di salah satu Perguruan Tinggi Islam tempat saya mengabdi, tak lama kemudian,  terjadilah  diskusi ringan dengan teman saya (laki-laki) tentang masalah Ta’aruf. (Ta’aruf berasal dari kata ‘arafa yaitu perkenalan secara syar’i antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menuju kegerbang pernikahan). Salah –satu dari mahasiswi tersebut berkeyakinan, bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran yang ada hanya ta’aruf. Pacaran dalam konsep Islam adalah haram,

Rabu, 26 November 2014

Pengertian dan Ruanglingkupnya



PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


Mahasiswa memahami konsep umum Filsafat Pendidikan Islam


A.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat Pendidikan Islam mengandung 3 (tiga) komponen kata, yaitu filsafat, pendidikan dan Islam. Untuk memahami pengertian Filsafat Pendidikan Islam akan lebih baik jika dimulai dari memahami makna masing-masing komponen kata untuk selanjutnya dipahami secara menyeluruh dari keterpaduan ketiga kata tersebut.
Filsafat berasal dari kata benda Yunani Kuno philosophia yang secara harpiah bermakna “kecintaan akan kearifan”.makna kearifan melebihi pengetahuan, karena kearifan mengharuskan adanya pengetahuan dan dalam kearifan terdapat ketajaman dan kedalaman. Sedangkan John S. Brubacher berpendapat filsafat dari kata Yunani filos dan sofia yang berarti “cinta kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan[1].

Hadis Maudhu'



HADIS MAUDHU


1.     Hadis Maudhu’

a.      Pengertian Hadis Maudhu’

الموضوع أ-لغة: اسم مفعول من الوضع، ضد الرفع، ووضع الشئ من يده، إذا ألقاه، ووضع الشئ وضعاً[1]

Apabila ditinjau secara bahasa, hadits maudhu` merupakan bentuk dari isim maf`ul dari wado`a-yado`u.kata wado`a  memiliki beberapa makana antara lain: menggugurkan, misalnya kalimat wado`al jinan yata anhu (hakim menggugurkan hukuman dari seseorang). Juga bermakna attarku (meninggalkan), misalnya ungkapan ibilun maudu`atun (unta yang ditinggalkan di tempat pengembalaannya). Selain itu juga bermakana al iftiroo`u wal ikhtilaaqu (mengada ada dan membuat buat), misalnya kaliamat wado`a fulaanun haadzihil qissota (fulan membuat buat dan mengada ada kisah itu).[2]

Klasifikasi Hadis Berdasarkan Kwalitas Rawi



A.     Hadis Shahih

الصَّحيح تعريفه: لغة: الصحيح ضد السقيم, اصطلاحاً:ما اتصل سنده بنقل العَدْل الضابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا عِلَّة[1]
Shahih secara bahasa adalah lawan dari sakit. Sedangkan menurut Istilah adalah hadis yang sanadnya bersambung melalui penyampaian  rawi yang adil, sempurna ingatanya, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan tidak janggal dan juga tampa ’Ilat. Dari definisi tersebut, maka syarat hadis shahih adalah  : Sanadnya bersambung, Perawinya adil. Diriwayatkan perawi yang dhobit (kuat ingatan), Tidak janggal, dan tampa ‘illat.

Klasifikasi Hadis Berdasarkan Kwantitas Rawi




 



Pembagian hadis berdasarkan kwalitas rawi  terbagi dua, yaitu hadis mutawatir dan hadis ahad.  Hadis mutawatir terbagi lagi menjadi mutawatir lafdhi dan mutawatir maknawi. Sedangkan hadis ahad terbagi tiga, yaitu ahad masyhur, ‘aziz dan ahad gharib. Pengertianya adalah sebagai berikut :

A.     Hadis Mutawatir

المتواتر لغة: هو اسم فاعل مشتق من المتواتر أي التتابع، تقول تواتر المطر أي تتابع نزوله.اصطلاحا: ما رواه عدد كثير تٌحيل العادة تواطؤهم على الكذب.[1]
Kata Mutawatir adalah isim fa’il mustaq dari At-tawatur, artinya At tatabu (التتابع ) yaitu berturut-turut. Seperti engkau berkata : تواتر المطر   artinya تتابع نزوله hujan turun beriringan atau berturut-turut. Sedangkan menurt istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi  yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka untuk bersepakat dusta.

Ilmu Hadis Riwayah dan Dirayah



ILMU HADIS RIWAYAH DAN DIROYAH



Ilmu hadits merupakan ilmu yang berpautan dengan hadits dan mempunyai banyak ragam dan macamnya. Dalam pada itu, jika dilihat kepada garis besarnya, ilmu hadits terbagi menjadi dua macam saja, yaitu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah, dan ilmu-ilmu tersebut mempunyai sejarah penghimpunannya masing-masing.
Ilmu hadits riwayah maudhu’nya (objeknya) ialah pribadi Nabi, yakni perkataan, perbuatan, taqrir dan sifatnya. Karena hal inilah yang dibahaskan di dalamnya. Sedangkan maudhu’nya (objeknya) dari hadits dirayah ialah mengetahui segala yang berpautan dengan pribadi Nabi, agar kita dapat mengetahuinya dan memperoleh kemenangan dunia akhirat.

A.     Pengertian Ilmu Hadits Riwayah


 عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ كَيْفِيَّةِ اِتِّصَال اْلأَحَادِيْثِ بِالرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَيْثَ مَعْرِفَةِ اَحْوَالِ رَوَّاتِهَا وَظَبْطٍ وَعَدَالَةٍ وَمِنْ حَيْثُ كَيْفِيَةِ السَّنَدِ اِتِّصَالاً وَنِقِطَاعًا  و نحو ذ للك

Struktur Hadis



STRUKTUR HADIS


           
Dalam kajian ilmu hadis, sebuah teks dikatakan hadits apabila mempunyai struktur sebagaimana ditetapkan oleh ‘ulama – ‘ulama hadis. struktur hadits tersebut terdiri dari  sanad, matan, rawi, shigat isnad, dan mukharij hadits. tanpa struktur tersebut sebuah teks tidak bisa dikatakan lagi sebagai hadits
Yang meriwayatkan suatu hadis adakalanya menerima langsung hasil tanggapan panca indranya dari sumber aslinya, ada juga yang menerima hadis secara tidak langsung.  Jika tempat dan jarak antara seseorang dengan terjadinya peristiwa itu sangat jauh, atau penerima hadis dengan sumber asli yang mempunyai hadis tidak hidup dalam satu generasi, mustahil dapat memperoleh suatu hadis yang berkualitas, jika sumbernya “katanya” kalau bukan menggunakan media yang imformasinya valid.